Mohon untuk tidak mengupload file materi perkuliahan yang berbentuk pdf, ppt, doc, xls ke Blog Staff UMY -- Silahkan upload file-file tersebut ke E-Learning Teknik Curang Dalam Meningkatkan Rangking Webometrics – Anhar

Teknik Curang Dalam Meningkatkan Rangking Webometrics

Webometrics merupakan salah satu standar yang banyak menjadi acuan berbagai Universitas di Indonesia khususnya Universitas Swasta. Webometrics menjadi sangat penting karena dengan memperoleh peringkat yang baik tentunya akan meningkatkan nilai jual/promosi universitas tersebut.

Karena itu saat ini sudah banyak universitas baik negeri maupun swasta yang mulai mempelajari bagaimana sistem penilaian webometrics.

UMY sendiri sudah sejak tahun 2010 mulai melakukan upaya untuk meningkatkan rangking webometrics, namun walaupun begitu UMY tidak serta merta mengejar peringkat. Sejak awal UMY berkomitmen bahwa rangking webometrics seharusnya berjalan secara alami tanpa melakukan rekayasa atau upaya-upaya berlebihan hingga melanggar batas etika demi naiknya rangking webometrics.

Webometrics sendiri setiap 6 bulan sekali selalu melakukan evaluasi terhadap sistem penilaian mereka bahkan saat ini bisa dikatakan sudah sangat sulit untuk melakukan rekayasa atau upaya untuk meningkatkan rangking webometrics.

Secara dasar ada 4 sistem penilaian dalam webometrics yaitu:

  1. Jumlah Site Terindeks
  2. Jumlah Backlink
  3. Jumlah File Terindeks
  4. Schimago

Dari 4 kriteria penilaian tersebut sebagian besar universitas di Indonesia hanya bisa melakukan upaya peningkatan pada sistem penilaian 1 s.d 3. Hal ini terjadi karena di 3 faktor penilaian tersebut memang banyak celah yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai yang nantinya akan berpengaruh terhadap rangking.

Untuk di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang memang sudah sangat dikenal sebagai kota pelajar dan dengan banyaknya Universitas di Provinsi ini tentunya tingkat persaingan Webometrics sangatlah ketat sekali. Beberapa Universitas Swasta di Provinsi ini termasuk UMY sangat serius “menggarap” webometrics. Bahkan saya sendiri pernah dihubungi oleh salah seorang staff salah satu Universitas Swasta tertua di Yogyakarta untuk membantu mereka meningkatkan rangking webometrics dan menanyakan bagaimana cara UMY bisa bertahan dengan rangking webometrics yang stabil.

Seperti sebelumnya yang saya katakan diatas bahwa UMY sejak awal memang berkomitmen agar nilai webometrics berjalan secara alami artinya jika ada peningkatan pada beberapa faktor penilaian itu merupakan hasil kerja seluruh civitas akademika UMY bukan merupakan kerja tim yang khusus memantau webometrics.

Alhamdulillah saat ini sudah banyak Civitas Akademika UMY yang sadar bahwa rangking webometrics merupakan hasil kerjasama seluruh unsur akademika kampus bukan merupakan kerja tim saja. Artinya rangking webometrics itu memang berdasarkan upaya baik itu dari tingkat pimpinan universitas, dosen serta mahasiswa.

Bisa saja sebenarnya tim webometrics UMY melakukan berbagai macam trik curang untuk meningkatkan penilaian webometrics namun kami selalu berkomitmen tidak melakukannya, walaupun begitu saat ini yang terus dilakukan adalah memberikan edukasi bahwa penggunaan fasilitas teknologi seperti blog, e-learning, journal  sangatlah penting sekali dalam membantu meningkatkan rangking webometrics.

Tidak ada hal yang UMY sembunyikan dalam seluruh upaya dalam meningkatkan rangking webometrics, setiap faktor penilaian bisa dicek secara online tanpa ada kecurangan. Ketika saya ditanya oleh salah satu staff universitas lain tentang bagaimana cara tim webometrics UMY meningkatkan nilai dalam webometrics, maka saya jawab apa adanya karena memang benar apa yang UMY raih dalam rangking webometrics bukan merupakan kerja tim webometrics saja tetapi hasil kerja seluruh Civitas Akademika UMY.

Semua natural, semua alami dan tanpa rekayasa walaupun masih banyak hal yang perlu dibenahi. Beberapa hal yang dilakukan adalah:

  1. Mengajak seluruh civitas akademika UMY untuk aktif menggunakan blog
  2. Mengajak seluruh dosen di lingkungan UMY untuk aktif menggunakan blog
  3. Memberikan fasilitas subdomain khusus kepada seluruh UKM serta BEM untuk aktif menggunakan subdomain tersebut
  4. Mengoptimalkan penggunaan e-learning

Efek dari hal-hal diatas langsung berpengaruh terhadap peningkatan faktor penilaian webometrics dan jika hal-hal tersebut jika dilakukan secara terus menerus tentunya akan menjadi sebuah pondasi yang sangat kuat dalam membangun rangking webometrics.

Tim webometrics sendiri tidak pernah tergoda untuk menggunakan beberapa cara curang seperti dibawah ini:

  1. Mengupload secara masif file-file pdf serta doc
  2. Menggunakan software untuk melakukan farm link
  3. Memanipulasi jumlah halaman yang terindeks dengan mempublish halaman-halaman sampah
  4. Spamming Comment
  5. Spamming link

Webometrics juga setiap edisi selalu melakukan perbaikan dalam menilai rangking webometrics suatu universitas. Update terakhir webometrics tentang “bad practices” bisa dilihat di link berikut ini http://webometrics.info/en/node/164

Pada rilis rangking webometrics bulan Januari 2016 banyak Universitas Negeri maupun Swasta terkena pinalti/hukuman dari webometrics karena melakukan pelanggaran baik disengaja maupun tidak.

Pelanggaran tersebut adalah tidak imbangnya jumlah total site yang terindeks di google dengan jumlah file yang terindeks. Misalkan saya ambil contoh Universitas Pendidikan Indonesia, dari data yang bisa kita cek bahwa web upi.edu memiliki jumlah site terindeks sebanyak 455.000 tetapi dilain sisi juga mereka mempunyai jumlah file pdf yang terindeks di google sebesar 225.000

Screenshot_2 Screenshot_3

Jika kita melihat faktor penilaian yang nomer 1 dan 3 tentunya kita akan berpikir ini bagus sekali namun hal ini dianggap tidak wajar oleh webometrics dan menurut saya memang tidak masuk akal.

Artinya dalam setiap publish halaman, artikel di web tersebut minimal terdapat 1 buah file pdf yang disertakan. Webometrics telah menyatakan dengan jelas hal ini seperti yang dicantumkan dalam web webometrics

Screenshot_4

Artinya komposisi idealnya adalah jumlah file yang terindeks tidak boleh lebih dari sepertiga jumlah halaman yang terindeks. Masih berdasarkan contoh UPI diatas bahkan kalau kita cek beberapa file yang terindeks dan kita buka linknya disana kita tidak akan menemukan link file PDF yang dimaksud. Contohnya saya membuka salah satu link file pdf yang terindeks dari upi.edu

Screenshot_6

Ketika dibuka hanya tampil halaman kosong seperti dibawah ini

Screenshot_7

Pinalti hukuman yang diberikan oleh webometrics tidak hanya untuk UPI saja tetapi banyak universitas lainnya di Indonesia. Universitas tersebut adalah:

  1. Universitas Airlangga
  2. ITS
  3. Unila
  4. UPI
  5. Gunadarma
  6. Unsri
  7. UIN Sunan Ampel
  8. Universitas Negeri Malang
  9. UIN Maulana Malik Ibrahim
  10. UMS
  11. dan masih banyak lagi lainnya.

Dari hal ini kita dapat perhatikan bahwa Universitas di Indonesia banyak melakukan upload file ke website universitas tanpa diiringi dengan banyaknya jumlah content lainnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*